Minggu, 17 November 2013

silabus 10



Kepercayaan
1.     Arti kepercayaan

Kepercayaan merupakan suatu hal yang penting bagi sebuah komitmen atau perjanjian, dan komitmen hanya dapat direalisasikan jika suatu saat berarti. Kepercayaan ada jika para pelanggan percaya bahwa penyedia layanan jasa tersebut dapat dipercaya dan juga mempunyai derajat integritas yang tinggi. (Karsono, 2006)
Kepercayaan konsumen adalah semua pengetahuan yang  dimiliki konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat konsumen  tentang objek, atribut dan manfaatnya. (Sunarto 2006 h.153)
Keyakinan atau kepercayaan adalah suatu faktor penting yang dapat mengatasi krisis dan kesulitan antara rekan bisnis selain itu juga merupakan aset penting dalam mengembangkan hubungan jangka panjang antar organisasi. Suatu organisasi harus mampu mengenali faktor-faktor yang dapat membentuk kepercayaan tersebut agar dapat menciptakan, mengatur, memelihara, menyokong dan mempertinggi tingkat hubungan dengan pelanggan  (Karsono, 2008). Dalam konteks Relationship Marketing, kepercayaan merupakan salah satu dimensi dari Relationship Marketing untuk menentukan sejauhmana apa yang dirasakan suatu pihak integritas dan janji yang ditawarkan pihak lain.
Kotler (1998,h.194) menyatakan Hubungan Pemasaran  (Relationship Marketing) adalah proses menciptakan, mempertahankan dan meningkatkan hubungan yang kuat, bernilai tinggi dengan pelanggan dan pihak yang berkepentingan lain. Hubungan pemasaran berarti bahwa pelanggan atau organisasi harus memfokuskan pada mengelola pelanggan di samping produk. Relationship Marketing sendiri mendorong para marketer untuk selalu berpikir dalam frame work jangka panjang. 
Kepercayaan dapat diartikan dengan kepercayaan (belief) atau keyakinan (conviction) suatu pihak terhadap pihak lain atau terhadap suatu hubungan (relationship). (Yuniningsih, 2007)
Moorman dkk (1993) menyatakan bahwa kepercayaan pada dasarnya merupakan kemauan suatu pihak untuk mengandalkan pihak lain. Pengertian ini sejalan dengan pendapat Morgan dan Hunt (1994) yang menyatakan bahwa kepercayaan timbul sebagai hasil dari kehandalan dan integritas mitra yang ditunjukkan melalui berbagai sikap seperti konsistensi, kompeten, adil, tanggung jawab, suka menolong dan memiliki kepedulian. Dalam konteks hubungan perusahaan dengan para retailer, kepercayaan para retailer akan muncul ketika pihak perusahaan membuktikan keahlian dan kehandalannya.
Anderson dan Narus (1990) menyatakan bahwa kepercayaan merupakan masalah penting dalam menjalin hubungan kerja sama dan menjadi dasar bagi kelanjutan sebuah hubungan. Kepercayaan menuntut adanya kemauan para pedagang perantara untuk mengandalkan perusahaan yang menjadi mitranya. Morgan dan Hunt (1994) menyatakan bahwa kepercayaan tanpa adanya kemauan untuk mengandalkan pihak yang dipercaya menunjukkan bahwa kepercayaan tersebut masih bersifat terbatas.
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat dinyatakan bahwa trust   adalah kepercayaan pihak tertentu terhadap yang lain dalam melakukan hubungan transaksi berdasarkan suatu keyakinan bahwa orang yang dipercayainya tersebut akan memenuhi segala kewajibannya secara baik sesuai yang diharapkan.
Pendekatan yang juga perlu dilakukan untuk membangun kepercayaan dan hubungan adalah mendengarkan. Mendengarkan merupakan kunci membangun kepercayaan karena tiga faktor penting (Griffin 2003 h.85):
1.      Pelanggan lebih cenderung mempercayai seseorang yang menunjukkan rasa hormat dan apa yang dikatakannya. 
2.      Pelanggan cenderung lebih mempercayai perusahaan bila perusahaan mendengarkan dan membantu masalah-masalahnya.
3.      Semakin banyak pelanggan memberitahu maksutnya, semakin besar rasa kepercayaannya.
Formasi kepercayaan secara langsung terjadi ketika konsumen melakukan aktivitas pemrosesan informasi. Informasi tentang atribut dan manfaat produk/ jasa yang diterima, dikodekan ke dalam memori, dan kemudian dibuka kembali dari memori untuk dipergunakan. (Sunarto 2006 h.164).
Menurut Mayer et al. (1995) faktor yang membentuk kepercayaan seseorang terhadap yang lain ada tiga yaitu kemampuan (ability), kebaikan hati (benevolence), dan integritas (integrity).

2.     MENGEMBANGKAN KEPERCAYAAN DALAM HUBUNGAN

Membangun hubungan saling percaya dalam kelompok membutuhkan waktu. Sama seperti asumsi peran dalam diskusi kelompok yang membutuhkan waktu, sehingga tidak mengembangkan rasa percaya pada orang lain. Anda mungkin tidak akan berjalan ke orang asing dan memberikan orang itu nomor rekening bank Anda. Dan akan lebih memilih untuk memberikan nomor itu kepada pasangan atau teman yang telah dikenal selama beberapa tahun. Saat Anda berkomunikasi dengan orang lain, Anda secara bertahap mengetahui apakah Anda bisa mempercayai mereka. Kepercayaan dibangun di atas pengalaman masa lalu. Pertama Anda mengamati bagaimana seorang individu menyelesaikan berbagai tugas dan tanggung jawab. Lalu Anda memutuskan apakah Anda dapat mengandalkan pada individu itu untuk menyelesaikan sesuatu. Mungkin Anda memiliki teman yang selalu dapat diandalkan untuk membantu Anda.
Kepercayaan dapat membantu mengurangi ketidakpastian dalam membentuk ekspektasi terhadap orang lain. Anda percaya orang-orang yang menawarkan dukungan dan yang dipercaya akan terus melakukannya di masa depan. Seperti saat berpartisipasi dalam kelompok, Anda percaya kepada anggota-anggota kelompok, karena tindakan mereka dan dukungan di masa lalu, telah memberikan alasan agar percaya bahwa mereka akan mendukung Anda di masa depan. Anggota kelompok membangun hubungan kepercayaan ketika mereka saling menghormati satu sama lain dan sebagai kelompok menjadi lebih kohesif.
Namun, bahkan waktu dan pengalaman tidak dapat menjamin kepercayaan. Sejumlah risiko selalu terlibat setiap kali Anda percaya kepada orang lain. Reichert menyarankan, "Kepercayaan selalu ada risiko, semacam lompatan dalam gelap. Hal ini tidak didasarkan pada bukti kuat bahwa orang lain tidak akan menyakiti Anda.” Jika Anda telah mengembangkan hubungan dekat dengan seorang teman hanya untuk memiliki teman yang mengkhianati kepercayaan Anda, Anda mungkin enggan untuk mengembangkan hubungan dekat dengan orang lain. Dengan demikian, hubungan Anda dalam kelompok masa lalu mempengaruhi cara dimana Anda berhubungan dengan orang-orang dalam kelompok di masa depan.

3.      PENGUNGKAPAN DIRI (SELF DISCLOSURE)

            Salah  satu cara  terpenting  untuk  menciptakan  dan memelihara  hubungan  saling  percaya dengan orang lain yakni melalui pengungkapan diri (Self Disclosure-mengkomunikasikan secara sengaja informasi tentang diri kepada orang lain). Dalam  membangun  hubungan  pribadi  membutuhkan  waktu  dan resiko tertentu . Dalam  hal ini, ketika  anda mengungkapkan  sesuatu  yang  pribadi  dan  personal,  maka  kemungkinan akan  terjadi penolakan  oleh  orang  lain.
            Pengungkapan  diri  harus  disesuaikan dengan  kesempatan  dan  ekspektasi dari  setiap   individu  yang  bersangkutan. Memberitahukan  sesuatu  terlalu  dini  mungkin  saja  menggangu  orang  lain. Selain  itu  juga  tidak  baik jika  kita  membicarakan  sesuatu  tentang  kehidupan  pribadi  kita  ketika  pertama  kali  berkenalan  dengan  orang. Orang  lain  merasa  tidak  nyaman  dan  ingin  mengakhiri  hubungan. Oleh  karena  itu,  ketika  pertama  kali  bertemu  dengan  seseorang  biasanya  kita  mengungkapkan  informasi  yang tidak  terlalu   bersifat  pribadi. Selama  kita  membangun  hubungan  saling  percaya, kenyamanan dalam mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi akan berangsur-angsur tumbuh. John Powell mengemukakan bahwa pengungkapan informasi tentang diri kita seringkali mengalami kemajuan melalui beberapa level yang dapat diprediksi :
Level 5 : Komunikasi Klise (Cliché Communication) . Pertama kali Anda melakukan kontak verbal dengan orang lain dengan cara mengatakan hal-hal yang menunjukan bahwa Anda mengakui keberadaan mereka. Ucapan standar seperti “hai, apa kabar?”, “senang berkenalan dengan anda”, “cuacanya sedang bagus ya?” menunjukan keinginan untuk memulai suatu hubungan.
Level 4 : Fakta-fakta dan informasi yang bersifat “data diri”/biografi (Facts and biographical information). Setelah menggunakan ucapan-ucapan yang bersifat klise dan memberikan tanggapan untuk membangun kontak, Anda mengungkapkan hal-hal yang bersifat umum tentang diri Anda, seperti nama, tempat tinggal, atapun pekerjaan.
Level 3 : Sikap dan gagasan pribadi (Personal attitudes and Ideas). Dalam level ini Anda akan mulai menanggapi berbagai macam gagasan dan isu, mulai setuju atau tidak setuju dengan orang lain. Ketika Anda mengungkapkan gagasan-gagasan, sikap, dan nilai-nilai, Anda membuka diri Anda terhadapa penolakan dari orang lain didalam kelompok, Saling berbagi tentang gagasan dan sikap-sikap pribdai, kemudian melibatkan lebih banyak resiko.
Level 2: Perasaan pribadi (Personal Feelings). Membicarakan perasaaan pribadi anda membuat Anda lebih rentan daripada mendiskusikan gagasan dan sikap , terutama ketika Anda membicarakan perasaan yang bersangkutan dengan orang lain.
Level 1 : Puncak Komunikasi (Peak Communication). Menurut Powell, level ini merupakan level yang paling tinggi dari pengungkapan diri. Jarang orang yang mampu mencapai level ini. Hanya dengan teman-teman akrab atau orang yang telah tahu Anda sejak lama, Anda akan berbagi sisi personal yang mungkin saja tidak akan diterima oleh orang lain. Level tertinggi dari pengungkapan diri ini membutuhkan lebih banyak waktu dan kepercayaan untuk berkembang.
Kelima tingkatan pendekatan diri ini sekedar cara untuk menggambarkan proses pendekatan diri, jadi jangan mencoba untuk mengklasifikasikan semua komunikasi personal anda dengan orang lain dalam salah satu kategori ini. Anda tidak seharusnya khawatir dengan analisis seperti “Saya sedang berbicara dengan seseorang dari level 4 dan mungkin minggu depan saya akan mencapai level 2.”. Pemikiran seperti ini dapat mengurangi percakapan yang spontan. Pendekatan diri tidak seharusnya digunakan sebagai alat untuk memanipulasi orang lain dalam hubungan saling percaya, Anda harus mengembangkan kesadaran diri yang lebih besar dari proses pendekatan diri untuk membantu mengevaluasi hubungan anda dengan orang lain dalam grup kecil.
Seorang peneliti telah mendeskripsikan 5 karakteristik dari pendekatan diri yang baik. Pertama, pendekatan diri adalah sebuah fungsi dari hubungan yang berkelanjutan. Artinya, pendekatan diri bukanlah sesuatu yang dilakukan hanya sekali; anda secara kontinyu membagi informasi tentang diri Anda kepada orang lain.
Kedua, pendekatan diri bersifat timbal balik (yaitu ketika anda mengungkapkan sesuatu kepada orang lain, orang tersebut mungkin akan mengungkapkan sesuatu kepada anda). Sifat alami timbal balik dari pendekatan diri ini dikenal sebagai efek diadik. Saat anda mengungkapkan informasi tentang diri anda kepada orang lain, mereka mungkin akan membagi informasi tentang mereka kepada anda—paling tidak mereka akan melakukannya jika anda memberi kesempatan. Jika anda terus saja bicara tentang diri anda sendiri dan jarang memberikan kesempatan berbicara kepada yang lain, mereka mungkin tidak akan merespon anda. Jika anda ingin menciptakan iklim kepercayaan di dalam grup anda, anda harus mau berbagi dengan orang lain.
Ketiga, pendekatan diri diwaktukan untuk apa yang terjadi dalam grup anda. Contohnya, jika grup anda sedang berdiskusi tentang dimana seharusnya jalan tol dilokasikan, tidak pantas jika anda berbicara tentang betapa anda menikmati waktu bermain dengan kucing anda.  Dengan kata lain, jangan mengungkap hanya untuk kepentingan pengungkapan. Komentar anda harus relevan dengan diskusi pada saat itu.
Keempat, pendekatan diri harus berhubungan dengan apa yang terjadi di antara orang yang hadir. Pendekatan diri yang anda lakukan tidak hanya harus sesuai untuk sebuah kesempatan, tapi juga sesuai dengan orang-orang dalam grup anda. Anda tidak perlu membicarakan tentang hubungan yang bermasalah jika jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang ada. Anda akan menemukan orang yang mendengarkan, tapi jika orang lain yang juga hadir tidak tertarik pada pengakuan anda, simpanlah untuk diri anda sendiri.
Terakhir, pendekatan diri biasanya bergerak secara bertahap (membutuhkan waktu). Membangun hubungan kepercayaan dengan orang lain tidak bisa terburu-buru. Jika sekelompok orang akan bertemu hanya untuk dua atau tiga sesi, jangan mengharuskan diri untuk memasuki  sesi pendekatan diri dan mengharapkan orang lain segera mengikutinya selama saat-saat pembukaan sesi pertama anda. Saat anda mungkin merasa bahwa mengenal satu sama lain akan sehat bagi anggota kelompok anda, jangan mencoba untuk terburu-buru melakukan pendekatan diri. Jika anda melakukannya, anda mungkin akan menimbulkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan. Anggota kelompok akan menginterpretasikan usaha anda untuk membangun kepercayaan sebagai usaha mengintai kehidupan personal mereka. Anda tidak seharusnya melakukan pendekatan diri terlalu banyak dalam waktu singkat, anda seharusnya gigih dalam mencoba mengenal anggota grup yang lain. Pendekatan diri adalah cara yang bermanfaat untuk memperbaiki sebuah hubungan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar