Minggu, 27 Oktober 2013

SILABUS 7 . MANAJEMEN PERUBAHAN



 A. Pengertian Manajemen Perubahan

  • Manajemen merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan penggunaan sumber daya dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
  • Perubahan adalah berpindahnya sesuatu dari  kondisi asalnya menjadi sebuah kondisi yang lain.
  • Dari kedua pemahaman tersebut diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Manajemen Perubahan itu adalah:  proses Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan dan Pengawasan penggunaan sumber daya dalam rangka menhadapi berpindahnya sesuatu dari  kondisi asalnya menjadi sebuah kondisi yang baru guna tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
  • Pengertian manajemen perubahan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
 - Menurut Wibowo, dalam bukunya Manajemen Perubahan, Manajemen perubahan adalah suatu proses secara sistematis dalam menerapkan pengetahuan, sarana dan sumber daya yang diperlukan untuk mempengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak dari proses tersebut.
- Menurut Prof. Dr. J. Winardi, manajemen perubahan adalah upaya yang ditempuh manajer untuk memanajemen perubahan secara efektif, dimana diperlukan pemahaman tentang persoalan motivasi,
kepemimpinan, kelompok, konflik, dan komunikasi.
- Manajemen perubahan adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengelola akibat-akibat yang ditimbulkan karena adanya perubahan dalam organisasi. Organisasi dapat terjadi karena sebab-sebab
yang berasal dari dalam maupun dari luar organisasi tersebut.
- Manajemen perubahan ini merupakan proses, alat, dan teknik untuk mengelola orang-sisi proses perubahan, untuk mencapai hasil yang diperlukan, dan mewujudkan perubahan secara efektif di dalam individu, tim, dan sistem yang luas.


B. TAHAP-TAHAP MANAJEMEN PERUBAHAN

Suatu perubahan terjadi melalui tahap-tahapnya.  Pertama-tama adanya dorongan dari dalam (dorongan internal), kemudian ada dorongan dari luar (dorongan eksternal).  Untuk manajemen perubahan perlu diketahui adanya tahapan perubahan.  Tahap-tahap manajemen perubahan ada empat, yaitu:
Tahap 1,
  yang merupakan tahap identifikasi perubahan, diharapkan seseorang dapat mengenal perubahan apa yang akan dilakukan /terjadi.  Dalam tahap ini seseorang atau kelompok dapat mengenal kebutuhan perubahan dan mengidentifikasi tipe perubahan.
Tahap 2,
  adalah tahap perencanaan perubahan.  Pada tahap ini harus dianalisis mengenai diagnostik situasional tehnik, pemilihan strategi umum, dan pemilihan.   Dalam proses ini perlu dipertimbangkan adanya factor pendukung sehingga perubahan dapat terjadi dengan baik. 

Tahap 3,
merupakan tahap implementasi perubahan dimana terjadi proses pencairan, perubahan dan pembekuan yang diharapkan.  Apabila suatu perubahan sedang terjadi kemungkinan timbul masalah. Untuk itu perlu dilakukan monitoring perubahan.
Tahap 4,
 adalah tahap evaluasi dan umpan balik.  Untuk melakukan evaluaasi diperlukan data, oleh karena itu dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dan evaluasi data tersebut.  Hasil evaluasi ini dapat di umpan balik kepada tahap 1 sehingga memberi dampak pada perubahan yang diinginkan berikutnya.
Suatu perubahan melibatkan perasaan, aksi, perilaku, sikap, nilai-nilai dari orang yang terlibat dan tipe gaya manajemen yang dibutuhkan. Jika perubahan melibatkan sebagian besar terhadap perilaku dan sikap mereka, maka akan lebih sulit untuk merubahnya dan membutuhkan waktu yang lama.
Jika pimpinan manajemen perubahan mengetahui emosi normal yang dicapai, ini akan lebih mudah untuk memahami dan menghandel emosi  secara benar. 
C.  Komponen Manajemen Perubahan

  1. Tujuan perubahan
  2. Aspek strategis yang perlu diubah
  3. Strategi yang diterapkan
  4. Sumber- sumber daya
  5. Manajer perubahan
  6. Agent of change
  7. Organisasi
  8. Target audiens yang pasti
D. Macam-macam manajemen perubahan

jenis atau macam-macam manajemen perubahan. Ada 2 macam perubahan, yaitu: perubahan secara alamiah(natural change) dan perubahan secara terencana. Perbedaan antara perubahan alamiah dan terencana itu sendiri dapat kita lihat dari prosesnya, untuk perubahan alamiah biasanya prosesnya tidak terarah dan untuk perubahan terencana biasanya terarah. Selain itu kita juga dapat melihat apakah perubahan yang telah terjadi dalam diri kita melalui kemajuan (progress) dan pertumbuhan. Biasanya apabila perubahan yang kita lakukan itu secara terencana, kita pasti punya visi; baik itu cita-cita, harapan, pandangan, tujuan dan masa depan. Nah… setelah membahas mengenai macam dari perubahan tadi, kita dapat membedakan, apakah perubahan yang terjadi pada itu terjadi secara alamiah atau terencana.
Lanjut pada pendekatan dari manajemen perubahan, disini saya akan membahas mengenai 4 pendekatan dalam perubahan individual, diantaranya:
  • Pendekatan dalam Perubahan Prilaku (Change Behavior)/Behavior Approach, Pendekatan perilaku ini merupakan proses bagaimana mengubah sikap dengan tidak melalui ganjaran atau hukuman melainkan lebih mengarah pada analisis prilaku dan penggunaan strategi hadiah.
  • Pendekatan dalam perubahan hasil (Achieving result)/Cognitif approach, Pendekatan kognitif (Cognitif Approach) ini menjelaskan tentang bagaimana mencapai hasil melaui refragming positif, teknik ini terkait penetapan tujuan dan pembinaan untuk dapat mencapai hasil.
  • Bagian dalam perubahan (The inner world of change)/Psikodinamic approach, Kata “psikodinamic” didasarkan pada gagasan bahwa ketika menghadapi perubahan dalam dunia luar, setiap individu dapat mengalami berbagai perubahan. Ada lima tahapan dalam psikodinamic approach ini, diantaranya:
·          
    • Kecurigaan (Relief)
    • Kaget (Shock)
    • Penyangkalan (Denial)
    • Kemarahan (Anger)
    • Penawaran (Bargaining)
    • Tekanan (Depression)
    • Penerimaan (Acceptence)
    • Percobaan (Experimentation)
    • Penemuan (Discovery)
  • Maksimalkan potensi psikologis (Psikology Maximizing) Humanistic Approach, Pendekatan humanistik ini adalah tentang percaya dalam pembagunan dan pertumbuhan, dan maksimalkan potensi. Penekanannya adalah pada pengembangan sehat, otentik sehat dan organisai yang sehat. Pendekatan humanistic biasanya digunakan untuk mengubah atau menggabungkn beberapa wawasan dari tiga pendekatan sebelumnya, sementara pada saat yang sama mengembangkan diri sendiri. Jalan menuju pertumbuhan pribadi menurut Carl Rogers, adalah penciptaan lingkungan yang menfasilitasi;
    • Melalui keasliannya, menganggap positif dan pemahaman empati memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan terjadi.
    • Akan ada gerakan dari kekakuan yang lebih cair dari pendekatan pikiran dan perasaan klien, hal ini memungkinkan lebih banyak kreatifitas dan pengambilan resiko terjadi.
    • Klien akan menuju pada tingkat yang lebih menerima bertanggung jawab atas keadaan mereka, memungkinkan meraka untuk lebih banyak pilihan dari yang untuk memilih.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Koordinasi


A.    Pengertian Koordinasi,Kooperasi,dan Sinergi



Koordinasi adalah proses untuk memadukan tujuan dan aktivitas dari unit-unit yang ada, supaya tujuan secara keseluruhan dapat tercapai. Tanpa koordinasi, ada kemungkinan masing-masing kerja keras, tetapi kurang mendukung organisasi bahkan merugikan organisasi.
Asas ini diperulukan agar suatu organisasi harus memiliki keselarasan aktivitas di antara satuan/unit organisasi atau di antara pimpinannya. Dengan adanya keselasrannya ini dapat dihindari adanya konflik, rebutan sumber atau fasilitas, duplikasi pekerjaan, dan adanya delay antar antar aktivitas.

Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama.Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.

Sinergi adalah bentuk Kerjasama Win-win yang dihasilkan melalui Kolaborasi masing-masing Pihak tanpa adanya Perasaan Kalah.  Menurut Stephen Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People, jika 1 + 1 = 3, maka itulah yang disebut “Synergy”.  Sinergi adalah saling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai Hasil Lebih Besar daripada Jumlah bagian per bagian. 



B.     Jenis-jenis Koordinasi


Jenis-jenis koordinasi terbagi menjadi dua,yaitu sebagai berikut :

1.       Intern yaitu koordinasi yang langsung dilakukan oleh atasan kepada bawahannya dalam suatu organisasi yang sama :
1. koordinasi vertikal yaitu koordinasi struktural
2. koordinasi horizontal
3.   koordinasi diagonal
2.      Ekstern yaitu koordinasi yang dilakukan oleh suatu organisasi dengan organisasi lainnya,
1. koordinasi vertikal
2.   koordinasi diagonal


C.    Tujuan dan Manfaat Koordinasi
 

Ada beberapa tujuan koordinasi dalam sebuah organisasi. Apabila dalam organisasi dilakukan koordinasi secara efektif maka ada beberapa manfaat yang didapatkan.
Menurut T. Hani Handoko (1999) Adapun manfaat koordinasi antara lain:
  1. Dengan koordinasi dapat dihindarkan perasaan terlepas satu sama lain, antara satuan-satuan organisasi atau antara pejabat yang ada dalam organisasi. 
  2. Menghindari suatu pendapat atau perasaan bahwa satuan organisasi atau pejabat merupakan yang paling penting. 
  3. Menghindari kemungkinan timbulnya pertentangan antara bagian dalam organisasi. 
  4. Menghindari terjadinya kekosongan pekerjaan terhadap suatu aktifitas dalam organisasi. 
  5. Menimbulkan kesadaran diantara para pegawai untuk saling membantu.
Jelas manfaat koordinasi sangat menentukan terselenggaranya usaha yang telah diprogramkan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Tetapi apabila koordinasi tidak melaksanakan atas departementasi dan pembagian kerja, akan menimbulkan organisasi yang berjalan sendiri-sendiri tanpa ada kesatuan arah. 

Menurut Hasibuan (2001) koordinasi penting dalam suatu organisasi, yakni:
  1. Untuk mencegah terjadinya kekacauan, percecokan, dan kekembaran atau kekosongan pekerjaan. 
  2. Agar orang-orang dan pekerjaannya diselaraskan serta diarahkan untuk pencapaian tujuan perusahaan 
  3. Agar sarana dan prasarana dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. 
  4. Supaya semua unsur manajemen dan pekerjaan masing-masing individu pegawai harus membantu tercapainya tujuan organisasi. 
  5. Supaya semua tugas, kegiatan, dan pekerjaan terintegrasi kepada sasaran yang diinginkan.
Jadi koordinasi sangat penting dalam mengarahkan para bawahan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan perusahaan.


D.    Prinsip Koordinasi


     -Koordinasi harus dimulai dari tahap perencanaan awal.
   -Hal pertama yang harus diperhatikan dalam koordinasi adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi kepentingan bersama.
     -Koordinasi merupakan proses terus menerus dan berkesinambungan.
     -Koordinasi merupakan pertemuan-pertemuan bersama untuk mencapai tujuan.
    -Perbedaan pendapat harus diakui sebagai pengayaan dan harus dikemukakan secara terbuka dan diselidiki dalam kaitannya dengan situasi secara keseluruhan.

Koordinasi akan berlangsung secara efektif apabila dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan dari tahap awal sampai akhir pekerjaan; mengupayakan hubungan dan pertemuan pertemuan diantara berbagai pihak yang terkait, serta mengembangkan keterbukaan sehingga jika terdapat perbedaan pandangan dapat didiskusikan dan dipecahkan bersama.


E.     Karakteristik Koordinasi yang Efektif

Handayaningrat (1992) mengemukakan karakteristik koordinasi sebagai berikut :

        1. Tanggung Jawab koordinasi terletak pada pimpinan. Oleh karena itu, koordinasi menjadi wewenang dan tanggung jawab pimpinan, sehingga dapat dikatakan bahwa pimpinan bisa berhasil jika melakukan koordinasi.
      2. Koordinasi adalah kerja sama. Hal ini disebabkan kerja sama merupakan syarat mutlak terselenggaranya koordinasi.
          3. Koordinasi merupakan proses yang terus menerus (continue process). Dan berkesinambungan dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga.
        4. Pengaturan usaha kelompok secara teratur. Hal ini disebabkan koordinasi adalah konsep yang diterapkan di dalam kelompok, bukan usaha individu melainkan sejumlah individu yang berkerjasama di dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
       5. Kesatuan tindakan merupakan inti koordinasi.  Pimpinan merupakan pengatur usaha-usaha dan tindakan-tindakan setiap individu sehingga diperoleh keserasian dalam mencapai hasil bersama.
     6. Tujuan Koordinasi adalah tujuan bersama (common purpose) Kesatuan usaha yang meminta kesadaran semua pihak untuk berpartisipasi secara aktif melaksanakan tujuan bersama sebagai kelompok tempat mereka bekerja.

Karakteristik koordinasi sebagaimana diuraikan di atas, menunjukkan bahwa keselarasan tindakan perlu selalu diupayakan untuk mencapai tujuan bersama, dan koordinasi yang memadai tidak datang begitu saja, tetapi perlu dikoordinasikan, dibina, dijaga, serta dikembangkan secara terus menerus dan berkesinambungan.




Daftar Pustaka :